liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
2 Tahun Studi, Ini Tantangan Konversi Toyota Calya Bensin Jadi Listrik


Jakarta

Agus Purwadi, Kepala Laboratorium Riset Konversi Energi Listrik Institut Teknologi Bandung (ITB) memaparkan perkembangan studi konversi Toyota Calya dari mobil bensin ke mobil listrik. Dua tahun studi sudah berjalan, namun prosesnya belum selesai, terutama terkait keselamatan.

“Kalau jalan dan jalan saja mungkin tidak ada masalah. Yang jadi masalah kalau kita melihat standar internasional, atau kemudian homologasi, kita harus memenuhi aspek safety yang sangat ketat,” ujar Agus saat memberikan pemaparan di Seminar Nasional “Strategi Menuju Emisi” Net Zero with Toyota Indonesia”, Kamis (1/12/2022).

Agus mengatakan, pihaknya dan Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) masih melakukan penelitian terhadap Toyota Calya untuk diubah menjadi mobil listrik. Maka ITB melakukan kajian terhadap transmisi otomatis Calya yang memiliki Internal Combustion Engine (ICE) 1.200 cc, mobil tersebut diubah menjadi Battery Electric Vehicle (BEV).

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Sebenarnya proyek ini sudah dipublikasikan sejak tahun 2021, namun penelitiannya dimulai pada tahun 2020 dan terhambat oleh pandemi Covid-19.

Agus menjelaskan, kajian terhadap Calya mengutamakan keamanan tingkat internasional. Saat ini, kata dia, tidak mudah mengganti mobil yang memenuhi standar keselamatan.

“Kita berharap ini tidak bisa terjadi kalau kendaraan roda empat relatif berat, harus ada aspek safety yang relatif tinggi, dan terkait komunikasi atau protokol sehingga kepatuhan SPKLU juga oke. Kita berharap ini terus berlanjut ke depannya, jadi kita bisa menyelesaikannya,” katanya.

“Dan masalah kedua, kalau kita berbeda dengan yang dilakukan di UI, dan ITS. Kita pilih transmisi otomatis, ternyata pemetaan ECU memang harus disesuaikan. Mau tidak mau kita harus menarik garis antara karakter sepeda motor dan karakter transmisi otomatis. Jadi menurut kami ini tantangan yang sulit juga. Tapi kalau transmisi manual itu mudah, dan bisa dilakukan, minimal untuk kecepatan rendah dan tinggi,” jelas Agus.

“Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran berharga untuk bisa masuk ke level atas untuk memenuhi homologasi,” pungkasnya.

Simak Video “Strategi Toyota! Bikin Avanza Lebih Mahal dari Calya”
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)