Setelah Toyota Fortuner, Mobil Buatan Indonesia Apa Lagi yang Diekspor ke Australia?


Jakarta

Indonesia berhasil menorehkan sejarah dengan mengekspor mobil rakitan lokal Toyota Fortuner ke Australia pada Februari 2022. Setelah Fortuner, apakah mobil buatan Indonesia lainnya akan dikirim ke Negeri Kanguru tersebut?

Ketua I Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), Jongkie D. Sugiarto mengatakan, sejauh ini Gaikindo belum bisa menginformasikan apakah ada model mobil lain yang akan diekspor ke Australia. Pasalnya, prosedur ekspor cukup rumit karena harus mendapat persetujuan prinsipal.

“Lagi-lagi ekspor dikendalikan prinsipal. Jadi merek-merek di Indonesia tidak bisa langsung ekspor ke sana, harus melapor ke ‘bos’ dulu. Jadi nanti mereka yang urus. (Namun sejauh ini) belum ada rencana penambahan mobil ekspor ke Australia),” kata Jongkie kepada wartawan di Jakarta, Rabu (23/11/2022).

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Oleh karena itu, kami mendesak prinsipal untuk lebih banyak mengekspor (mobil) dari Indonesia,” lanjut pria ramah itu.

Sebelumnya dikabarkan Mitsubishi juga akan mengekspor mobil ke Australia. Merek berlogo tiga berlian itu akan menambah negara tujuan ekspor sebanyak 9 negara. Saat ini, pabrik Mitsubishi di Indonesia telah mengekspor ke 30 negara.

Sebagai catatan, Indonesia dan Australia tergabung dalam Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement atau perjanjian bilateral IA-CEPA. Dalam perjanjian ini salah satu isinya tentang perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Australia dengan menghapus bea masuk untuk hampir semua produk yang diperdagangkan antara kedua negara.

“Pasar Australia sangat besar, apalagi kita sudah punya perjanjian dagang, jadi sayang kalau tidak dimanfaatkan,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Juni lalu.

Gaikindo Buka Peluang Tambah Negara Tujuan Ekspor

Selain memantau situasi pasar Australia dan peluang peningkatan ekspor produk mobil lainnya, Gaikindo juga memantau kesepakatan RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership).

Sekadar informasi, RCEP merupakan perjanjian perdagangan bebas antara negara-negara Asia Pasifik, antara lain Australia, Brunei Darussalam, Kamboja, China, Indonesia, Korea Selatan, Jepang, Laos, Malaysia, Myanmar, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam . .

“Saat ini sudah ada penandatanganan RCEP. Kami menunggu juklak (juklak) dan juknis (juknis). Katanya (Menkeu) Sri Mulyani yang akan menerbitkannya,” Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto.

“Ada beberapa negara yang tergabung dalam RCEP, ada negara tertentu yang akan menurunkan bea masuknya. Jadi kalau nanti bisa diturunkan, ada peluang untuk (ekspor) lagi (ke) negara lain,” ujarnya.

Tonton videonya “Chip Semikonduktor Langka, Indonesia Tak Bisa Bangun Pabrik?”
[Gambas:Video 20detik]
(lua/lth)