liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Tak Punya Nikel, Industri Kendaraan Listrik Thailand Bakal Kalah dari RI


Jakarta

Industri otomotif Thailand diprediksi gagal memenuhi target produksi 50% kendaraan listrik pada 2030. Selain rendahnya minat konsumen Thailand terhadap mobil listrik, Thailand juga kesulitan mengendalikan harga mobil listrik karena tidak memiliki harga alami. sumber daya nikel seperti Indonesia.

Perlu diketahui, nikel merupakan bahan baku utama baterai mobil listrik. Baterai mobil listrik harganya sangat mahal, bahkan nilainya bisa mencapai 40-50% dari total harga kendaraan listrik itu sendiri. Jadi sangat beruntung negara-negara yang memiliki tambang nikel, karena bisa memproduksi baterai sendiri, sehingga bisa menekan harga mobil listrik sehingga bisa bersaing dengan harga mobil konvensional.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Merujuk data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2020, Indonesia memiliki cadangan nikel sebanyak 72 ton atau 52% dari total cadangan nikel dunia.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Beberapa pabrik pembuatan baterai kendaraan listrik juga sedang dibangun di Indonesia seperti pabrik baterai di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah buatan China, dan juga di Kawasan Industri Deltamas, Cikarang, Bekasi yang dibangun oleh LG dan Hyundai Company dari Korea Selatan.

Sehingga, Thailand yang tidak memiliki sumber daya nikel diprediksi akan kesulitan mengembangkan ekosistem kendaraan listrik. Seperti dikutip dari Bangkok Post, Thailand tidak akan mampu memenuhi target produksi kendaraan listrik lokal sebesar 50% pada 2030.

Menurut Senior Engagement Manager Arthur D. Little Southeast Asia, Akshey Prasad, kemungkinan besar industri otomotif Thailand hanya mampu memproduksi sekitar 7% dari total jumlah kendaraan yang diproduksi pada tahun 2030.

“Kami membuat prediksi yang realistis berdasarkan penelitian kami dan juga faktor-faktor yang digunakan dalam perhitungannya,” kata Prasad.

Prasad menjelaskan, harga listrik dan biaya pengisian baterai di Thailand akan sangat mahal. Di sisi lain, Thailand tidak memiliki Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum yang cukup.

Selain itu, Prasad juga membandingkan situasi di Thailand yang tidak memiliki tambang nikel seperti Indonesia. Prasad percaya bahwa nikel adalah kunci produksi kendaraan listrik.

“Berbeda dengan Indonesia yang banyak memiliki nikel sebagai bahan utama dalam produksi baterai kendaraan listrik, Thailand tidak memiliki bahan baku tersebut untuk menarik investor asing,” ujarnya.

Thailand sendiri hanya memiliki sumber daya alam seng atau zinc yang juga bisa digunakan untuk membuat baterai. Namun membutuhkan teknologi tinggi untuk membuat baterai dengan bahan baku tersebut.

“Thailand bisa bekerja sama dengan China, Jepang atau Australia untuk menggunakan seng sebagai bahan baku pembuatan baterai. Hal ini akan meningkatkan daya saing negara tersebut,” kata Prasad.

Tonton videonya “Jokowi senang pabrik baterai listrik terintegrasi mulai menyerap 20.000 pekerja”
[Gambas:Video 20detik]
(lua/rgr)